Renungan Bijak Untuk Motivasi Diri

Posted by at 6:56:00 PM

Menyempurnakan hidup lewat renungan bijak yang akan mampu memotivasi diri anda sedikit demi sedikit untuk menjadi manusia yang berkualitas.

Berbicara tentang motivasi setiap orang membutuhkannya dalam rangka meraih masa depan yang gemilang. Untuk itu, mari kita sejenak merenungi nasehat bijak berikut untuk menyadari bahwa betapa pentingnya kehidupan ini.

renungan bijak untuk motivasi diri

Sempurnakan hidup anda sekarang

Memang prestasi terbaik dan expert yang ingin anda kuasai telah anda impikan. Itu adalah kehidupan masa depan anda. Ingatlah, untuk mencapainya anda perlu menyempurnakan hidup anda saat ini. Sebab, keberhasilan anda mewujudkan prestasi terbaik dan expertise yang ingin anda kuasai sangat ditentukan oleh kehidupan anda saat ini.




Anda tidak pernah hidup di masa depan hingga melakukan kegiatan-kegiatan yang berkualitas hari ini. Seperti apa anda jadinya di masa depan adalah hasil dari apa yang anda lakukan hari ini. Ingat, jangan pernah menghabiskan seluruh energi dan waktu yang anda miliki hanya untuk kegiatan-kegiatan yang tak berkualitas.

Anda contoh menarik dari sebuah kisah yang bisa menggambarkan bagaimana seharusnya anda menyempurnakan hidup. Sebuah kisah yang mungkin anda pernah membacanya, namun saya hanya akan mengingatkannya kembali...

Seorang dosen berdiri di depan para mahasiswanya. Saat kelas dimulai, sang dosen mengambil toples kosong dan mengisi dengan bola-bola golf. Kemudian berkata kepada mahasiswanya, “apakah toples sudah penuh ?

Mereka setuju. “Ya,” sahut mereka ramai. Kemudian sang dosen kembali menuangkan batu koral ke dalam toples, lalu mengguncang-guncang dengan ringan. Batu-batu koral itu lalu mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf. Kemudian dia bertanya lagi kepada mahasiswanya, “apakah toples sudah penuh?”

Mereka setuju. “Ya.”

Selanjutnya dia menabur pasir ke dalam toples. Pasir pun kemudian menutup semuanya. Dosen itu sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh?

Para mahasiswa berkata, “Yaa!!”

Kemudian dia menuangkan dua cangkir kopi ke dalam toples dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.
Para mahasiswa tertawa. Mereka menganggap itu lelucon.

“Sekarang, saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu. Bola-bola golf adalah hal yang penting: Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan. Jika yg lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh.”

Ia lalu diam sejenak.

“Batu-batu koral adalah hal-hal lain seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil. Pasir adalah hal-hal yg sepele.”

Sang dosen memandang mahasiswanya yang terdiam. Sunyi.

“Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples, maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun untuk bola-bola golf.

“Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu. Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian.”





“Jadi beri perhatian utk hal-hal penting untuk kebahagiaanmu. Perbanyak bersyukur Kepada Tuhan atas berkah dan rahmatNya.  Bermainlah dengan anak-anakmu. Luangkan waktu untuk check up kesehatan. Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf. Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasirnya.”

Salah satu mahasiswa mengangkat tangan dan bertanya, “kopi mewakili apa, Pak?”
Sang dosen tersenyum, “Saya senang kamu bertanya.”

“Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat.” - SEKIAN.

Inilah yang saya maksudkan dengan menyempurnakan hidup. Mengisi kehidupan kita dengan hal-hal yang sifatnya dasar dan vital baru kemudian hal yang sifatnya tambahan saja. Jadilah manusia berguna yang tak hanya kata kata bijak nya saja yang diagungkan, melainkan tindakan dan nuraninya juga bijak dan bermanfaat.

Terkadang dalam hidup, kita selalu terbalik. Seperti dalam kisah di atas, tak jarang ada begitu banyak orang yang mementingkan pasir ke timbang golfnya. Ia lebih peduli, lebih enjoy menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak berguna. Perlahan melupakan Tuhan, keluarga, sahabat, dan semua hal yang penting dalam hidupnya. Pada akhirnya orang seperti ini hanya akan menjadi manusia tanpa arah dan tujuan hidup.